Bandung, 20 November 2014
Kemarin malam, aku terbangun dengan rasa ketakutan yang amat besar. Kubacakan lafadz "Na'udzubillah" berkali-kali, tak kuasa hatiku takut akan kehilangan dirinya. Di hadapanku dia berpacaran dengan perempuan lain, bukan hanya itu. Dia acuh tak acuh kepadaku. Aku yang mencintainya sejak 2 tahun ini tak dihiraukannya padahal aku yang lebih baik dari perempuan itu, hatiku berkata seperti itu. Bagaimana bisa dia tidak mencintaiku sedangkan kesabaran dan kesetiaanku menunggunya untuk bisa membuka hati dan mencintaiku sambil berkata "Iya aku juga cinta kamu" tidak tergapai oleh tanganku yang tak pernah membuka hati untuk siapapun. Begitu sakitnya aku menyaksikan mereka berdua begitu mesra dengan jarak yang sangat dekat. Aku berlari menjauhinya dan menangis dalam kepekatan hidup yang nyatanya tidak sesuai dengan harapan.
"Mengapa kau setega itu? Tidak cukupkah usahaku untuk membuat kamu jatuh cinta kepadaku? Tidak adakah matamu merekam gerak-gerikku untuk membuka hatimu? Apakah aku tidak cantik sesuai matamu? Apakah aku tidak cerdas sesuai otakmu? Apakah aku tidak sesholehah sesuai prinsipmu? Tapi jika memang kamu tidak suka kepadaku, kenapa pula kamu selalu merespon segala tindak-tandukku? Apakah itu hanya belas kasihan sebagai teman karena kamu terlalu baik sesuai orang-orang katakan, makanya kamu merespon terus apa yang aku pinta? Aaaargggggggggghh, memang kamu tidak punya hati!!! Aku lebih suka kamu jujur saja dari awal kalau memang tidak suka. Aku lebih menyukai seperti itu. Kamu memang tidak tahu bagaimana rasa sakit yang selalu kualami ketika aku sendiri dan ingat akan dirimu. Sakit lebih sakit dari apapun, karena aku tidak pernah mengetahui kamu menyukaiku atau tidak. Namun aku selalu optimis bahwa kamu memang menyukaiku namun belum siap untuk mengatakan itu. Bahkan aku selalu percaya bahwa jika memang saatnya tiba bukan pacaranlah yang kamu tawarkan, tetapi sebuah pernikahan. Tapi kenapa pada akhirnya prasangka baikku itu tidak sesuai dengan pengharapanku?" Hatiku menjerit.
Ternyata itu hanya mimpi buruk! Apa yang terjadi? Padahal sebelum tidur aku selalu berdoa dan setiap malam pun selalu aku dawamkan shalat Istikhoroh. Ya memang tujuan shalat Istikhoroh bukan hanya soal jodoh, tetapi untuk segala perkara apapun ketika aku mengalami keragu-raguan. Ya, tujuan awalku agar Allah memudahkanku dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini. Karena aku ingin lulus pada bulan Maret, ingin selesai kuliah tiga setengah tahun.
Heem, sangat menakutkan mimpi itu! Bagaimana tidak? Aku menyukainya selama 2 tahun ini. Ya walau memang aku berusaha menetralkan hati ini ketika aku memulai shalat Istikhoroh, karena aku tidak mau shalat Istikhoroh ini gagal hanya karena aku condong pada satu hati.
Ya Allah, Engkau tahu bagaimana hatiku yang telah sangat mencintainya. Namun aku berusaha untuk melupakannya dan menetralkan hatiku. Namun dikala aku bermimpi tentangnya aku malah simpati lagi kepadanya. Aku berharap Engkau memberikan kepadaku mana yang terbaik untukku, baik bagi agamaku, bangsaku dan keluargaku. Aamiin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar