RSS

Dosen dan Penjual Jus yang Membuat Hari Ini Indah



Hari ini rasanya beda sekali dengan hari kemarin dan hari-hari sebelumnya. Hari ini mulutku harus sering mengucapkan Astraghfirullah dan Masya Allah. Kenapa? Karena ada dua peristiwa yang sangat membuatku jadi melankolis. Tadi, ketika kuliah kelasku disuruh ke Jurusan dengan dibawah perintah Dosen mata kuliah Metode Pelatihan Dakwah dan kebetulan beliau adalah sekertaris jurusan yang belum lama dilantik. Memang dosen ini killer-nya minta ampun. Mungkin teman-temanku sekelas tidak menyukai beliau. Kenapa tidak? Banyak sekali sikapnya yang kurang baik beliau tanamkan. Tadi saja, ketika kami ke jurusan, ternyata beliau menindaklanjuti tugas mandiri kami yang telah kami kumpulkan, yaitu Tugas Mengikuti Pelatihan. Kami dipanggil tiga orang-tiga orang sesuai absen, absen sebelum aku tidak masuk, sehingga aku yang pertama menghadap bersama dua teman lelakiku. Kami pun duduk, dimulai dari teman lelakiku yang absennya paling awal, mereka mendapat masalah dengan laporan pelatihan, akhirnya mereka tidak mendapatkan nilai, kemudian giliranku dan aku serahkan laporanku, aku mendapatkan masalah karena tidak ada Jadwal Acara dan analisisnya kurang dan akhirnya aku mendapatkan nilai C, huh! Bayangkan C yang aku dapatkan. Tapi aku berani bertanya, “Pak nilai ini sementara kan?” “Iya sementara.” Jawabnya cetus tanda kecewa dengan hasil tugas kami. Kami pun keluar. Teman-temanku bertanya kepadaku, “Teh Mala, ditanya apa tadi?” Tanya salah satu temanku namun yang lainnya juga ikut tegang menunggu jawabanku. “Ditanya hasil laporan aja, perbaikan tugas aja, apa-apa yang kurang dilengkapi.” Jawabku santai namun hati sedih. “Teh Mala salahnya apa?” Tanya salah satu temanku yang lain. “Tidak ada jadwal acara dan analisisnya kurang” jawabku santai lagi sambil menyodorkan laporan tugasku kepadanya. “Wah C nilainya?!” temanku kaget sambil melototi hasil tugasku dan aku. Dari situ perdebatan dan perbincangan kami dimulai. Kami masih ingat bahwasannya waktu memberikan tugas bapak Dosen tidak menyuruh kami menyertakan agenda acara, tapi kenapa sekarang beliau menanyakan itu? Nah, ini nih yang membuat kami kesal.
Teman-temanku yang lain masuk sesuai absen. Kemudian keluarlah kloter setelahku dan seterusnya. Aku ingin sekali menangis, karena pas aku tanya ke teman-temanku semuanya nilainya “A-“ sedangkan permasalahannya sama sepertiku, tapi kenapa aku malah “C”? Dari sini aku mulai geram. Bukan apa-apa. Selalu saja nilaiku kecil jika diajar sama beliau, sama seperti semeter kemarin. Aku tidak tahu apakah nasib atau karena kenapa gitu loh?! Teman-temanku menyuruhku untuk sabar dan mengadu kepada dosen pas setelah selesai semua.
Ketika masuk ke ruang jurusan, beliau menjelaskan perihal laporan kami dan menjelaskan kembali apa-apa yang kurang. Aku masih menunggu beliau berhenti berbicara. Dan akhirnya, “ Oke, siapa yang mau bertanya?” beliau mempersilakan. Aku mengangkat tangan dengan percaya dirinya. “Maaf pak sebelumnya, kenapa nilai saya C sedangkan nilai yang lainnya A-? padahal permasalahannya sama.” Tanyaku tegas namun sebenarnya agak takut melihat mukanya. “yah, tenang saja ini baru nilai sementara. Banyak kok yang belum dapat nilai. Sekarang kamu mau nilai berapa? Hayo saya tulis ni.” Jawabnya sambil tertawa santai. Teman-temanku tertawa tapi mereka mendukung dengan kritisnya aku. “bukan begitu pak. Saya Cuma bingung, kenapa bisa beda begitu?! Apa karena saya bareng tadi sama laki-laki sehingga saya jadi kecipratan, begitu?!” tambahku sambil tertawa juga. “Ya jangan khawatir, pokoknya minggu besok terakhir perbaikan, dan penentuan. Kamu kalau bagus bisa berubah jadi A. yang mendapatkan A pun belum tentu nanti dapat A juga. Ya sudah jangan nangis atuh neng!?” timbalnya sambil bercanda.
Oke, dari situ aku sedikit lega namun agak takut karena nilaiku sudah dicatet C walau sementara.  Kami pun pulang, di jalan aku berdebat lagi dengan teman-teman lelakiku yang protes tidak mendapatkan nilai padahal mereka mengerjakan tugas itu. “Kalian kenapa tadi diam? Di belakang malah protes.” Tanyaku. “bukan diam, ya saya mah patuh aja lah sama dosen. Biar dapat ridho-nya aja.” Jawab temanku simple sambil berjalan menapaki jalan. “Lah, ketika dosen berbuat jelek, masa harus didiemin?! Kamu kenapa mengeluh di belakang coba?!” tanyaku lagi sambil membenarkan tas yang sedikit lepas. “Yah, saya mah dapat berkahnya aja lah dan saya sudah berusaha sekuat mungkin.” Timpalnya dan akhirnya berlalu karena berbeda arah.
Hadeuuh, masa begitu yang dibilang ikhtiar? Itu tidak maksimal ikhtiarnya” kataku dalam hati.
Aku sedikit sedih namun kuserahkan semua hanya kepada Allah Yang Maha Penentu. Selama aku berikhtiar dengan semaksimal mungkin selama itu aku serahkan kepada Sang Maha Penilai.
Perutku merasa lapar, sedari duhur sampai sekarang jam empat sore aku belum mengisi kantung makananku. Aku mencari makan yang akan aku bawa ke kosan, hasratku ingin sekali meminum jus. Tak jauh kutemukan tempat jualan jus. “Teh, jus alpukatnya satu” sambil menduduki kursi. Ketika kulihat Si Tetehnya mengupas buah alpukat dagingnya busuk semua, tapi malah dia masukan ke dalam blender walau sedikit, dikupas lagi yang lainnya busuk juga, dan diambil sebagian yang busuk, dikupas lagi dan dimasukan lagi alpukat yang busuk. Aku yang sedari tadi memperhatikan tingkah penjual itu, malah ingin sekali menangis di dalam hati. “Teh busuk ih.” Protesku tapi tidak cetus. Penjual itu pun berhenti mengambil daging alpukat itu. “Mau yang mana atuh?” jawabnya lurus seperti tidak mempunyai dosa. Aku yang sebenarnya merasa tidak enak pun kuberanikan untuk menggantinya dengan Strowberry. “Aku ga akan beli di sana lagi ah.” Ucapku dalam hati. “Makasih ya teh?!” sambil mengambil jus itu dan memberikan uangnya. Alhamdulillah penjualnya masih mau melontarkan kata “sama-sama”. Ya aku tidak salahlah, karena aku tidak mau dirugikan sebagai pembeli. Bukan karena pelayanannya yang kurang bagus, tetapi dari aspek kebersihan tempat jualan dan buah-buahannya.
Dari sini mungkin aku harus banyak bersyukur karena telah banyak pelajaran yang bisa dipetik. Banyak sekali nikmat yang Allah berikan walau cara yang Dia berikan tidak selalu mengasyikan. Tapi di situlah kita dituntut untuk sabar, ikhlas, dan bersyukur. Alhamdulillah.
 
Copyright 2009 Coretan Hati KK. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates