Hari ini rasanya beda sekali dengan hari kemarin dan
hari-hari sebelumnya. Hari ini mulutku harus sering mengucapkan Astraghfirullah
dan Masya Allah. Kenapa? Karena ada dua peristiwa yang sangat membuatku jadi
melankolis. Tadi, ketika kuliah kelasku disuruh ke Jurusan dengan dibawah
perintah Dosen mata kuliah Metode Pelatihan Dakwah dan kebetulan beliau adalah
sekertaris jurusan yang belum lama dilantik. Memang dosen ini killer-nya minta
ampun. Mungkin teman-temanku sekelas tidak menyukai beliau. Kenapa tidak? Banyak
sekali sikapnya yang kurang baik beliau tanamkan. Tadi saja, ketika kami
ke jurusan, ternyata beliau menindaklanjuti tugas mandiri kami yang telah kami
kumpulkan, yaitu Tugas Mengikuti Pelatihan. Kami dipanggil tiga orang-tiga orang
sesuai absen, absen sebelum aku tidak masuk, sehingga aku yang pertama
menghadap bersama dua teman lelakiku. Kami pun duduk, dimulai dari teman
lelakiku yang absennya paling awal, mereka mendapat masalah dengan laporan
pelatihan, akhirnya mereka tidak mendapatkan nilai, kemudian giliranku dan
aku serahkan laporanku, aku mendapatkan masalah karena tidak ada Jadwal Acara
dan analisisnya kurang dan akhirnya aku mendapatkan nilai C, huh! Bayangkan C
yang aku dapatkan. Tapi aku berani bertanya, “Pak nilai ini sementara kan?” “Iya
sementara.” Jawabnya cetus tanda kecewa dengan hasil tugas kami. Kami pun
keluar. Teman-temanku bertanya kepadaku, “Teh Mala, ditanya apa tadi?” Tanya
salah satu temanku namun yang lainnya juga ikut tegang menunggu jawabanku. “Ditanya
hasil laporan aja, perbaikan tugas aja, apa-apa yang kurang dilengkapi.”
Jawabku santai namun hati sedih. “Teh Mala salahnya apa?” Tanya salah satu
temanku yang lain. “Tidak ada jadwal acara dan analisisnya kurang” jawabku
santai lagi sambil menyodorkan laporan tugasku kepadanya. “Wah C nilainya?!”
temanku kaget sambil melototi hasil tugasku dan aku. Dari situ perdebatan dan
perbincangan kami dimulai. Kami masih ingat bahwasannya waktu memberikan tugas
bapak Dosen tidak menyuruh kami menyertakan agenda acara, tapi kenapa sekarang
beliau menanyakan itu? Nah, ini nih yang membuat kami kesal.
Teman-temanku yang lain masuk sesuai absen. Kemudian keluarlah
kloter setelahku dan seterusnya. Aku ingin sekali menangis, karena pas aku
tanya ke teman-temanku semuanya nilainya “A-“ sedangkan permasalahannya sama
sepertiku, tapi kenapa aku malah “C”? Dari sini aku mulai geram. Bukan apa-apa.
Selalu saja nilaiku kecil jika diajar sama beliau, sama seperti semeter
kemarin. Aku tidak tahu apakah nasib atau karena kenapa gitu loh?! Teman-temanku menyuruhku untuk sabar dan mengadu kepada dosen pas
setelah selesai semua.
Ketika masuk ke ruang jurusan, beliau menjelaskan perihal
laporan kami dan menjelaskan kembali apa-apa yang kurang. Aku masih menunggu
beliau berhenti berbicara. Dan akhirnya, “ Oke, siapa yang mau bertanya?”
beliau mempersilakan. Aku mengangkat tangan dengan percaya dirinya. “Maaf pak
sebelumnya, kenapa nilai saya C sedangkan nilai yang lainnya A-? padahal
permasalahannya sama.” Tanyaku tegas namun sebenarnya agak takut melihat
mukanya. “yah, tenang saja ini baru nilai sementara. Banyak kok yang belum
dapat nilai. Sekarang kamu mau nilai berapa? Hayo saya tulis ni.” Jawabnya sambil
tertawa santai. Teman-temanku tertawa tapi mereka mendukung dengan kritisnya
aku. “bukan begitu pak. Saya Cuma bingung, kenapa bisa beda begitu?! Apa karena
saya bareng tadi sama laki-laki sehingga saya jadi kecipratan, begitu?!” tambahku
sambil tertawa juga. “Ya jangan khawatir, pokoknya minggu besok terakhir
perbaikan, dan penentuan. Kamu kalau bagus bisa berubah jadi A. yang
mendapatkan A pun belum tentu nanti dapat A juga. Ya sudah jangan nangis atuh
neng!?” timbalnya sambil bercanda.
Oke, dari situ aku sedikit lega namun agak takut karena
nilaiku sudah dicatet C walau sementara.
Kami pun pulang, di jalan aku berdebat lagi dengan teman-teman lelakiku
yang protes tidak mendapatkan nilai padahal mereka mengerjakan tugas itu. “Kalian
kenapa tadi diam? Di belakang malah protes.” Tanyaku. “bukan diam, ya saya mah
patuh aja lah sama dosen. Biar dapat ridho-nya aja.” Jawab temanku simple
sambil berjalan menapaki jalan. “Lah, ketika dosen berbuat jelek, masa harus
didiemin?! Kamu kenapa mengeluh di belakang coba?!” tanyaku lagi sambil
membenarkan tas yang sedikit lepas. “Yah, saya mah dapat berkahnya aja lah dan
saya sudah berusaha sekuat mungkin.” Timpalnya dan akhirnya berlalu karena berbeda
arah.
“Hadeuuh, masa begitu yang dibilang ikhtiar? Itu tidak
maksimal ikhtiarnya” kataku dalam hati.
Aku sedikit sedih namun kuserahkan semua hanya kepada Allah
Yang Maha Penentu. Selama aku berikhtiar dengan semaksimal mungkin selama itu
aku serahkan kepada Sang Maha Penilai.
Perutku merasa lapar, sedari duhur sampai sekarang jam empat
sore aku belum mengisi kantung makananku. Aku mencari makan yang akan aku bawa
ke kosan, hasratku ingin sekali meminum jus. Tak jauh kutemukan tempat jualan
jus. “Teh, jus alpukatnya satu” sambil menduduki kursi. Ketika kulihat Si
Tetehnya mengupas buah alpukat dagingnya busuk semua, tapi malah dia masukan ke
dalam blender walau sedikit, dikupas lagi yang lainnya busuk juga, dan diambil
sebagian yang busuk, dikupas lagi dan dimasukan lagi alpukat yang busuk. Aku yang
sedari tadi memperhatikan tingkah penjual itu, malah ingin sekali menangis di
dalam hati. “Teh busuk ih.” Protesku tapi tidak cetus. Penjual itu pun berhenti mengambil
daging alpukat itu. “Mau yang mana atuh?” jawabnya lurus seperti tidak
mempunyai dosa. Aku yang sebenarnya merasa tidak enak pun kuberanikan untuk
menggantinya dengan Strowberry. “Aku ga akan beli di sana lagi ah.” Ucapku dalam
hati. “Makasih ya teh?!” sambil mengambil jus itu dan memberikan uangnya. Alhamdulillah
penjualnya masih mau melontarkan kata “sama-sama”. Ya aku tidak salahlah,
karena aku tidak mau dirugikan sebagai pembeli. Bukan karena pelayanannya yang
kurang bagus, tetapi dari aspek kebersihan tempat jualan dan buah-buahannya.
Dari sini mungkin aku harus banyak bersyukur karena telah
banyak pelajaran yang bisa dipetik. Banyak sekali nikmat yang Allah berikan
walau cara yang Dia berikan tidak selalu mengasyikan. Tapi di situlah kita
dituntut untuk sabar, ikhlas, dan bersyukur. Alhamdulillah.






